Ketika
para tentara koalisi Irak yang dilatih oleh tentara Amerika dipersenjatai
senjata buatan Amerika seperti M-16 dan M-4, mereka menolak! Para prajurit Irak
ini kekeh bahwa mereka hanya mau menggunakan senjata buatan Uni Soviet
Kalashnikov atau yang lebih dikenal dengan sebutan AK-47.
Buat teman-teman
cowok yang sering main game perang2an seperti Counter Strike atau yang hobi main Airsoft Gun, pasti sangat familiar dengan senjata
yang satu ini. AK-47 memang merupakan senjata otomatis paling terkenal di
dunia! Dan fakta ini jelas tidak terbantahkan. Walau hingga saat ini AK-47
banyak mengalami modifikasi dan varian, tapi secara keseluruhan AK-47 tidak
mengalami banyak perubahan drastis pada konsep dasar teknisnya.
AK-47 digunakan oleh banyak kalangan, mulai dari
pasukan Taliban, tentara di banyak negara seperti Hongaria, Cina, Afrika,
pasukan macan tamil di Sri Lanka, hingga anggota mafia atau pengedar ganja di
Amerika Selatan. AK-47 bertanggung jawab atas kematian sedikitnya 250.000 manusia
di seluruh dunia tiap tahunnya.
AK-47 sejak lama memang dikenal sebagai sebuah
senjata otomatis yang dapat sangat diandalkan. Bentuknya yang sederhana namun
sangat tahan banting, kecepatannya untuk memuntahkan banyak peluru dalam
hitungan detik, dan murahnya biaya untuk memproduksi senjata ini membuat AK-47
menjadi senjata favorit sepanjang di banyak lokasi konflik di dunia. Di
beberapa tempat di dunia, bahkan harga sebuah AK-47 lebih murah dari pada harga
seekor ayam hidup!
Lahirnya Senjata Terhebat
Sejarah penciptaan AK-47 bermula pada tahun
1941. Pada akhir september 1941 tentara Jerman memasuki kota di Uni Soviet
(sekarang Rusia, red) bernama Bryansk dan menghancurkan hampir 80 % infrastruktur
kota serta membunuh tidak kurang dari 80.000 orang. Seorang prajurit lokal
bernama Mikhail Kalashnikov yang ketika itu berusia 21 tahun harus dirawat di
rumah sakit karena tank-nya terkena tembakan artileri dari pasukan Jerman.
Selama dirawat di rumah sakit Mikhail
Kalashnikov terobsesi untuk membuat sebuah senjata yang dapat mengusir pasukan
Jerman dari kampung halamannya. Akhirnya pada tahun 1947 Avtomat Kalashnikov
(AK-47) diperbolehkan untuk pertama kalinya untuk diproduksi secara massal.
Walaupun AK-47 datang agak terlambat untuk terlibat dalam aksi perang dunia
kedua tapi Uni Soviet paham betul bahwa AK-47 dapat menjadi senjata paling
penting di dunia modern sehingga mereka bekerja sangat keras untuk
menyembunyikan keberadaan AK-47 dari dunia barat.
Tentara Soviet membawa AK-47 mereka yang
ditutupi dengan tas khusus dan mereka bahkan memunguti selongsong peluru mereka
untuk menyembunyikan senjata baru mereka.
Akhir tahun ‘50-an Uni Soviet mulai menggunakan
AK-47 untuk menyebarkan pengaruh komunisme ke seluruh dunia. Dibandingkan
dengan senjata buatan Amerika M-15, M-14 dan M16, AK-47 terbukti lebih
superior.
AK-47 terbukti lebih tahan banting dan mampu
bekerja dengan sangat baik di berbagai kondisi. Hal ini sangat menguntungkan
bagi daerah2 yang tidak memiliki fasilitas perbaikan senjata. Uni Soviet
memberikan lisensi gratis kepada negara-negara kiri seperti Bulgaria, Cina,
Jerman Timur, Honggaria, Korea Utara, Polandia, dan Yugoslavia.
Para ahli senjata Amerika ketika itu tidak
melihat keunggulan AK-47 dan terus mengandalkan kepada senjata seperti M-1
dimana senjata ini memiliki peran yang begitu besar terhadap kemenangan sekutu
di perang dunia kedua. Tapi M-1 terlalu berat dan hanya memiliki delapan
putaran pada magazine-nya serta bukan merupakan senjata otomatis.
Reputasi AK47
Baru di Perang Vietnam tentara Amerika menghadapi langsung AK-47 di medan perang. Pasukan
Amerika akhirnya harus membayar kegagalan pemerintah mereka dalam menyadari
kekuatan dari senjata sederhana Avtomat Kalashnikov. Disamping segala keunggulan fasilitas tempur yang dimiliki
pasukan Amerika mereka memiliki satu kelemahan yaitu mereka tidak memiliki
sebuah senjata infantri yang mampu menandingi keunggulan AK-47. Perang Vietnam
merupakan perang infantri sejati yang tentunya banyak menempatkan kedua belah
pihak di sebuah kondisi konfrontasi satu lawan satu. Pihak yang mampu
mengeluarkan jumlah peluru lebih banyak dan lebih cepat adalah pemenang.
Setelah beberapa tahun perdebatan berlangsung,
Tentara Amerika akhirnya mengeluarkan senjata otomatisnya yang keren dan
canggih M-16. Pada musim panas 1966 lebih dari 100.000 M-16 dipesan dan segera
dikirim ke perang di Asia. Namun pada bulan oktober pada tahun yang sama
laporan mulai bermunculan. M-16 dilaporkan “jamming” atau tidak lancar dalam
mengeluarkan peluru.
Banyak pasukan Amerika yang ditemukan meninggal
dengan senjata mereka dalam kondisi tidak berfungsi. Moral pasukan Amerika pun
turun karena mereka tidak percaya dengan senjata yang mereka miliki. Bahkan
ironisnya tentara Amerika selalu mengambil Ak-47 dari tentara Vietnam yang
tertembak dan menggantikan M-16 mereka.
Apabila perang Vietnam memberikan reputasi tertinggi
kepada AK-47 maka pada perang Afghanistan di pertengahan tahun ‘80-an memulai
penyebaran AK-47 ke seluruh dunia ketika kerajaan Uni Soviet mulai jatuh.
Secara strategis, invasi Soviet di Afghanistan terlihat sukses. Kurang dari 70
prajurit Soviet meninggal dunia dan kebanyakan dari mereka bukan merupakan
korban dari pertempuran langsung.
Para ahli perang Soviet mengantisipasi invasi
mereka hanya berlangsung kurang dari 3 tahun. Suatu strategi yang terdengar
realistis mengingat pasukan Afghanistan tidak dilengkapi persenjataan modern.
Tapi itu semua berubah ketika Amerika melalui CIA mulai membantu secara
intensif pasukan Afghanistan melalui Pakistan. Dan ironisnya, CIA menyalurkan
ratusan ribu senjata AK-47 yang kebanyakan datang dari Cina kepada pasukan
Afghanistan.
Alasan CIA menyalurkan AK-47 daripada senjata
buatan Amerika adalah karena AK-47 dapat diandalkan, harga yang murah, dan
ketersediaannya yang sangat mudah dicari. Lebih jauh keberadaan senjata buatan
Soviet di tangan para mujaheddin ini tidak mudah untuk ditelusuri jejaknya
sehingga Pemerintah Amerika akan lebih mudah mengelak dari keterlibatan mereka.
Bertahun-tahun kemudian pada sebuah testimoni di
depan kongres, CIA mengakui bahwa pada tahun 1984 diperkirakan pasokan AK-47
senilai $200 juta telah dikirimkan ke Afghanistan dan hingga 1988 jumlah
tersebut mencapai $2 Milyar.
Setelah kehancuran Uni Soviet penyebaran AK-47
benar-benar di luar kendali. Di beberapa belahan dunia seperti Afghanistan,
Pakistan, Liberia, Rwanda, AK-47 menjadi semacam simbol kebudayaan. Di
negara-negara sangat miskin di benua Afrika dimana perang antar suku terjadi
dimana-mana. Keberadaan AK-47 dianggap sebagai alasan konflik-konflik yang
terjadi di Afrika menjadi lebih lama dimana seharusnya mereka dapat diselesaikan
lebih cepat. AK-47 bahkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan
sehari-hari masyarakan Afrika dan di beberapa lokasi AK-47 dinamakan sebagai
“African credit card” dimana “you could not leave home without it.”
Di Amerika Latin AK-47 berada di tangan para
pengedar obat terlarang dan pemberontak anti pemerintah. Sebagaimana CIA
mengirim AK-47 ke Afghanistan, CIA juga melakukan hal yang sama di Nicaragua
pada awal tahun 1980-an untuk melawan pemberontak Sandinistas yang didukung
oleh Uni Soviet. Bahkan beberapa waktu yang lalu presiden kontroversial dari
Venezuela, Hugo Chavez, mengumumkan bahwa pemerintahnya akan membeli 100.000
AK-47 dari Rusia dan berencana untuk membangun pabrik pembuatan senjata
tersebut. Apabila itu terjadi maka Venezuela menjadi negara di atmosphere dunia
barat yang memproduksi AK-47.
Dan seperti yang sudah disebutkan di atas, AK-47
juga menjadi pilihan nomor satu di Irak. Walau pada tahun 1991 pasukan sekutu
menghancurkan hampir semua fasilitas persenjataan di Irak namun pemerintah
Saddam Hussein mampu menyimpan beberapa senjata ringannya termasuk AK-47.
Ketika pasukan Amerika menginvasi Irak pada tahun 2003, para ahli perang tidak
memperhitungkan keberadaan senjata ini. Namun kenyataannya keberadaan AK-47
cukup mampu meletakkan para tentara Amerika di posisi yang berbahaya dimana
AK-47 tersebar di antara penduduk sipil dan para pemberontak atau milisi.
Sekarang di usianya yang ke-85, Mikhail Kalashnikov, yang sudah nyaris tuli serta kehilangan kontrol terhadap
tangan kanannya, sering dihantui oleh mesin pembunuh ciptaannya. Di Irak,
Sierra Leone, Sudan, dan tempat-tempat lainnya di dunia, terjadi perang dan
konflik di daerah perkotaan dimana para pemberontak berhadapan dengan pasukan
yang lebih terlatih. Tapi senjata yang lebih canggih dan mahal terlihat bukan
tandingan untuk para pemberontak dengan AK-47 yang tidak perlu latihan
berlebihan dan mengetahui medan lebih baik. AK 47 sendiri telah mendapatkan
pengakuan “selebritis.”
Pada tahun 2004 majalah Playboy memasukkan AK-47
sebagai salah satu dari 50 produk yang mengubah dunia di bawah Laptop Apple,
pil KB, dan Video Betamax dari Sony. Sementara penyanyi rap seperti Ice Cube
dan Eminem menyebutkan AK 47 dalam lirik lagu mereka.
Terlepas dari kesuksesannya menciptakan AK-47,
Mikhail Kalashnikov tidak memperoleh royalti sepeser pun. Namun Ia baru saja
mengeluarkan merek Vodka dengan namanya yang menjadi hit di Eropa dan Timur
Tengah, dan akan memasuki pasar Amerika tahun depan. Ketika diinterview oleh
majalah Guardian, Mikhail Kalashnikov berkata, “Saya hanya menciptakannya
untuk melindungi tanah kelahiran saya. Saya tidak memiliki penyesalan dan tidak
bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukan politisi.” Lebih lanjut
Kalashnikov berkata, “Sekarang saya berharap andai saja saya dulu
menciptakan mesin pemotong rumput.”
Sumber :
http://predator-technology.blogspot.co.id/2013/08/asal-usul-sejarah-senjata-ak-47.html#sthash.4pE02bSc.dpuf


Tidak ada komentar:
Posting Komentar