Kopassus saat ini memiliki dua grup
tempur berseragam (Parako): Grup 1 di Jakarta dan Grup 2 di Kartosuro, Solo.
Sam lagi disebut Grup 3 Sandi Yudha yang tak lain blue
jins soldiers serta makin lengkap dengan Satuan 81 Penanggulangan Teror.
Setingkat dengan keempat unit adalah Pusat Pendidikan Kopassus di Batujajar.
Kelima satuan ini dipimpin perwira berpangkat kolonel.
Keterpampilan
lempar pisau bukan urusan mudah. Dalam kondisi terdesak, keahlian ini bisa
sangat berguna melumpuhkan musuh
Grup 1 memiliki karakter keras,
cepat dan militan. Karakter yang menjadi identitas satuan ini merupakan warisan
dari senior pendahulu. Karakter itu terus dipertahankan dari generasi ke
generasi hingga akhirnya menjadi trade mark satuan. Sebagai satuan tempur, Grup
1 sangat lah ideal. Semua anggota tinggal di komplek markas yang terawat dengan
baik. Fasilitas latihan sangat memadai. Mulai dari dari halang rintang, hutan,
kolam renang, menara, lapangan tembak 600 dan 300 meter, lapangan tembak pistol
serta sebuah lapangan tembak bulat 15 meter. Lapangan ini digunakan untuk
mengasah kemampuan tembak reaksi. Ketika COMMANDO melakukan peliputan,
fasilitas CQB (close quarter battle) tengah dibenahi. Untuk menjawab kebutuhan
gerak cepat, tersedia tiga heli pad.
Lalu jika ditelusuri track yang mengitari
markas di samping pagar pembatas, panjangnya 5,5 kilometer. Jalanan ini biasa
digunakan untuk jogging tiap senin dan tanggal 17.
Ada beberapa tahapan yang mesti dilalui bagi warga negara Republik Indonesia
untuk menjadi prajurit Kopassus. Secara umum harus lulus pendidikan pembentukan
sesuai tingkatan. Mulai dari Secata (Sekolah Calon Tamtama), Secaba (Sekolah
Calon Bintara), Sepa PK (Sekolah Pembentukan Prajurit Karir) dan Akademi
Militer. Setelah lobos dari saringan penerimaan, mereka melanjutkan ke tahap
pendidikan kecabangan, pendidikan para dasar, latihan komando selama tujuh
bulan yang berakhir dengan pembaretan di Nusakambangan. Setelah di satuan akan
ditambahkan dengan materi spesialisasi dasar.
Bagi yang melewati pintu masuk dari Sepa PK dan Akademi Militer, pendidikan
para dan komando baru dilakukan setelah dilantik sebagai perwira. Pendidikan
komando bertujuan untuk mendidik dan mengembangkan kemampuan prajurit Kopassus
sehingga mampu baik secara individu dan kelompok melaksanakan operasi komando.
Dalam proses rekrutmen, Kopassus menerapkan standar di atas rata-rata. Dari
postur tubuh saja, minimal 168 sentimeter. Bahkan era Prabowo Subijanto pernah
mencapai 170 sentimeter. Penerapan standar tinggi ini tentu dengan maksud untuk
mendapatkan sosok prajurit yang tangguh dan berwibawa. Dari semua tahapan
pendidikan di atas, materi komando diakui paling berat. Namun justru dari
sinilah awalnya pembentukan prajurit individu seperti yang dibutuhkan Kopassus
sebagai komando tempur. Kenyataannya walau seberat apapun, toh generasi muda
tetap berduyun-duyun mengikuti seleksi penerimaan anggota Kopassus. Ada
kebanggaan memang ketika baret merah melekat di kepala.
Membaca
jejak musuh. Dengan keahliannya. Parako bisa menduga kapan posisi itu ditinggal
musuh
Adalah Mayor Inf Sarwo Edhi Wibowo
yang banyak membawa angin perubahan dalam pendidikan komando. Komandan ke 4 ini
menata materi pendidikan lebih sistematis dan terarah sesuai kebutuhan.
Termasuk mencari daerah latihan Akhir dari penyempurnaan adalah ditetapkannya
tahapan pendidikan komando: Tahap Basis, Gunung dan Hutan serta Tahap
Pendaratan Laut.
Kecepatan reaksi tidak hanya harus mampuni di medan lapang. Kadang di sela
semak belukar, prajurit Parako harus bisa bergerak cepat dengan senjata
mengarah kedepan untuk mengejar musuh yang lari. ketika sesi foto ini dibuat,
fotograper COMMANDO sempat kelabakan mengikuti gerak pasukan yang terlalu
cepat. Mengejar komposisi pas, kecepatan dan posisi pasukan, itulah susahnya.
Waktu pendidikan ditetapkan selama 20 minggu. Periode pelatihan dibagi atas
Latihan Dasar Komando (10 minggu), Gunung dan Hutan (enam minggu) dan
Pendaratan Laut (empat minggu). Dalam ketiga tahapan ini, siswa komando
menerima 63 materi pelajaran seperti teknik tempur, baca peta, pionir, patroli,
survival, naik gunung serta pendaratan dengan kapal motor dan pendaratan
amfibi. Pada masa setelah itu, waktu pendidikan mengalami peningkatan menjadi
22 minggu.
Malah karena kebutuhan organisasi
dan lapangan yang terns meningkat, tahun 1991 waktu pendidikan menjadi 28
minggu. Para petinggi di Mako Kopassus terus berupaya mengupgrade kemampuan dan
keterampilan prajurit. Maka diciptakanlan 28 jenis pendidikan dan kursus untuk
mempertajam kemampuan. Mulai dari pendidikan sandi yudha, kursus pelatih
komando, kursus pelatih sandi yudha, kursus pelatih para, kursus pelatih free
fall, kursus jump master dan kursus pandu udara (path finder).
Hingga pertengahan 1990-an, Kopassus
akhirnya mencapai pertumbuhan terbesarnya. Dari tiga grup dikembangkan menjadi
lima grup. Kebutuhan personel meningkat dengan cepat. Ujungujungnya yang
kelimpungan adalah Pusdik Passus. Untuk mengakalinya, akhirnya gelombang pendidikan
yang sebelumnya sekali setahun dijadikan dua kali. Dan untuk memberikan jeda
refreshing kepada Pusdik, waktu pendidikan dikurangi menjadi 20 minggu dengan
tidak mengurangi materi. Artinya terjadi pemadatan materi. Dalam crash program
ini calon prajurit diambilkan dan sejumlah Kodam serta werving internal di
setiap grup Setelah kebutuhan terpenuhi, pendidikan komando kembali menjadi 28
minggu setahun sekali.
Paket ini masih dipertahankan hingga
hari ini. Pendidikan komando diakhiri di Nusakambangan. Sebelum acara
pembaretan, selalu diadakan demo penutup dari siswa komando yang disaksikan
para undangan dan keluarga siswa. Kopassus menyebut demo saat matahari terbit
ini dengan Seruko (Serangan Regu Komando). Setelah menyelesaikan pendidikan
komando dan para dasar serta berhak menyandang brevet komando dan baret merah,
saatnya berdinas pun dimulai.
Prajurit-prajurit baru itu disebar di Grup 1 dan 2. Di Grup, pada tahap awal
mereka akan melaksanakan orientasi untuk mendapatkan gambaran tugas, nilainilai
dan tradisi satuan barunya. Baru setelah itu dibawah pembinaan Grup, mereka
menerima beberapa materi latihan. Baik untuk meningkatkan kemampuan, setidaknya
memelihara kualifikasi yang sudah diperoleh. Tuntutan selama di Grup adalah
setiap prajurit minimal hams mengikuti saw kali tugas operasi. Tuntutan ini
adalah syarat mutlak apabila salah sam dari mereka dipromosikan ke Sat 81 atau
Grup 3.
Pada masa menunggu sebelum tugas operasi turun, prajurit diberi pendidikan
lanjutan. Yaitu pendidikan spesialisasi dan pendidikan khusus di Sekolah
Pertempuran Khusus (Sepursus).
Sepursus diselenggarakan di Pusdik Passus, Batujajar. Kemampuan yang akan
dikuasai ini sangat menunjang dalam operasi komando. Karena beroperasi dalam
tim-tim kecil dengan menerapkan teknik-teknik unconventional warfare,
pertempuran yang dilakukan memang tidak keroyokkan. Perebutan, pengepungan,
pencidukan, penyekatan atau penculikan tokoh musuh, adalah jenis pertempuran
yang tidak sembarangan.
Meluncur dari tower, adalah kemampuan
standar yang harus dimiliki. Kekuatan tangan dan bahu, jadi kunci
Untuk itulah, materi-materi di Sepursus diarahkan kepada
kebutuhan tugas. Meliputi PJD (Pertempuran Jarak Dekat), perang kota, gerilya
lawan gerilya, selam militer dan antiteror. Selain Sepursus, prajurit juga
diharuskan mengikuti pendidikan spesialisasi. Jika Sepursus difokuskan untuk
level kelompok tempur, maka pendidikan spesialisasi adalah kecakapan individu
untuk mendukung kelompok tempur. Kopassus menggunakan istilah regu untuk
kelompok tempur terkecilnya yang berkekuatan 10 orang.
Sniper Accuracy International 7,62
milimeter
Pada kenyataannya, sniper ini jarang dibawa regu. Kelincahan
gerak di hutan, jadi pertimbangan kenapa sniper ini jarang dibawa. Kecuali
penugasan sangat khusus.Pendidikan komando
Melelahkan dan meruntuhkan mental. Itulah kesimpulan akhir dan pendidikan
komando. Ada yang kuat, setengah kuat dan yang gagal di tengah jalan. Penilaian
akhir pendidikan komando dilakukan secara akumulatif dari puluhan materi yang
diberikan. Dari penilaian itu akan terlihat kecenderungan, kelebihan dan
kekurangan seorang prajurit. Peserta gagal biasanya karena sakit.
Standar selama pendidikan di atas rata-rata. Kalau nilai jasmani di
satuan lain minimal 61, Kopassus menerapkan angka 70. Nilai yang sama untuk
menembak. Yang berat juga dalam urusan jasmani adalah renang nonstop 2.000
meter dan renang ponco menyeberangi selat dari Cilacap ke Nusakambangan.
Unit PJD dengan kendaraan khusus Land
Rover dilengkapi senapan berat CIS 12,7 milimeter
Setidaknya ada dua materi yang bikin bulu kuduk merinding
dalam tahap Perang Hutan. Yaitu Pelolosan dan Kamp Tawanan Sebagian prajurit
Kopassus yang ditanya soal dua materi ini hanya bisa tersenyum tipis sambil
melirik COMMANDO. “Berat, berat sekali tapi harus dilalui apapun yang akan
terjadi,” aku seorang prajurit Grup 1.
Pelolosan diawali dengan dilepasnya siswa satu demi satu di sebuah tempat di
Nusakambangan. Dalam hitungan tertentu, is harus tiba di save house di pantai
Permisan. “Kalau ditarik garis, itu dari ujung ke ujung pulau hingga berakhir
di Permisan,” jelas Kapten Inf Agus Widodo, Perwira Seksi Intel Grup 1.
Pelolosan dimulai pukul 7 pagi hingga paling lambat memasuki save house pukul
10 malam.
SYARAT
NAIK PANGKAT
Setelah dilepas instruktur, siswa yang tidak dibekali apapun itu hams mampu
menembus segala rintangan selama di perjalanan. Rintangan baik dari alam atau
rekaan para instruktur. Rekaan instruktur bisa berupa tembakan atau dikejar
sampai tertangkap. “Kami harus berupaya agar tidak tertangkap, karena
tertangkap sama saja gagal melaksanakan tugas,” kata Agus. Apa jadinya kalau
tertangkap? Bayangkan saja perang sungguhan ketika seorang tentara musuh
tertangkap. Dimasukkan ke dalam tahanan lalu diinterogasi dan disiksa sampai
buka mulut. Gebukan, tendangan, hantaman benda keras dan sejumlah siksaan
lainnya yang mungkin tidak bisa disebutkan, hams diterima bagi yang tertangkap.
Katanya sejumlah tentara asing mengakui bahwa materi ini tidak manusiawi.
Menurut Kapten Agus, latihan ini membuat mereka betul-betul sadar ancaman yang
bisa saja diterima dalam sebuah pertempuran.
Selesai Pelolosan, berikutnya sudah menunggu materi Kamp Tawanan Jika di
Pelolosan hanya yang tertangkap merasakan siksaan sebagai tawanan, maka di Kamp
Tawanan seluruh siswa merasakannya. Selama tiga hari tiga malam, siswa
merasakan beratnya menjadi tawanan perang. Walau semua jenis siksaan fisik ini
sudah ditentang lewat Konvensi Jenewa, namun siapa bisa menjamin tidak akan
terjadi. Contoh paling aktual lihat saja penyiksaan tawanan Irak di Baghdad
Correctional Facility yang dulunya Penjara Abu Ghraib oleh tentara Amerika
Serikat tahun 2004.
Sumber : http://segitiga8.blogspot.co.id/2013/08/kehebatan-dan-kelebihan-kopassus-yang.html